Langsung ke konten utama

Liberalisme Islam; Menyongsong Masyarakat Indonesia yang Post-Material




Dalam situasi di mana umat Islam dihadapkan pada kecenderungan tekstual dalam beragama, rasanya istilah Liberalisme Islam menjadi suatu pemikiran Islam yang berkonotasi negatif, mempunyai image buruk, tidak berpegang pada Al-Qur’an dan Hadits, tidak mempunyai “pagar” syari’ah, bahkan Liberalisme Islam dianggap produk pemikirannya orang kafir.agaknya mereka yang menaruh stigma negatif terhadap Liberalisme Islam belum mengetahui tugas dan tujuan dari pemikiran Liberalisme Islam itu sendiri.
Di zaman kacau seperti sekarang ini, pemikiran masyarakat Islam cenderung mengalami pendangkalan. Masyarakat lebih menyukai pemikiran agama yang bersifat simple dan menenangkan tetapi menghindari corak [emikiran yang bersifat filosofis, mendalam dan kritis. Berkaitan dengan itu, wajar apabila kaum Liberalisme Islam ingin membuat masyarakat resah karena banyak masyarakat Islam yang malas dalam berpikir dan kaum liberalis Islam ingin mengganggu zona nyaman orang-orang dalam berpikir supaya tidak merasa terbuai dalam kenyamanan. Tugasnya bukanlah seperti dai pada umumnya, bukanlah seperti para ustadz-ustadzah di televisi yang memberikan ketenteraman.
Memang salah satu tugas dari agama adalah membuat masyarakat menjadi “tenteram”, akan tetapi apabila pemikiran ortodoks (tekstualis) seperti ini terlalu menjadi candu bagi masyarakat Islam maka yang akan terjadi adalah orang-orang yang mempunyai daya nalar yang lemah, dan selanjutnya akan mengalami kebuntuan dalam pemecahan dalam persoalan-persoalan praksis. Dalam hal ini, analogi yang diberikan oleh Gus Dur sangatlah relevan. Gus Dur menganalogikan beliau sebagai orang yang menginjak gas ketika mengendarai mobil, sedangkan mayoritas orang di dalam mobil bertugas menginjak rem. Dari analogi tersebut dapat kita pahami bahwa mobil tidak akan berjalan tanpa diinjaknya gas, namun demikian mobil akan kehilangan kendali apabila tidak ada remnya. Jadi berkendara mobil haruslah balance antara pedal gas dan rem.
Begitupun dengan agama, agama hanya akan menjadi wahana ritus-ritus ibadah belaka sehungga masyarakat Islam akan menjadi orang-orang yang pasif dan individualis.peradaban Islam akan stagnan apabila kaum muslimin hanya mengandalkan keajaiban dari ritus-ritus ibadah. Bahkan lebih jauh dari itu, masyarakat Islam akan mudah menyalahkan dan menganggap sesat kelompok yang bukan darinya karena tidak ada nilai sosial dan keragaman dalam beribadah.
Walaupun demikian, menurut Cak Nur suatu generasi tidak bisa secara total memulai upaya pembaruan dari nol, melainkan mesti bersedia bertaklid, yang berarti melakukan dan memanfaatkan proses akumulasi pemikiran-pemikiran masa lalu. Apa yang diharpkan dari taklid ini adalah tercapainya tahap akumulasi akhir, di mana pemikiran-pemikiran itu berujung pada prestasi yang paling berguna. Sebenarnya apabila kita sebagai masyarakat Islam mempunyai hasrat untuk mebuka kembali literatur-literatur cendekiawan muslim klasik, kita akan menemukan khasanah pemikiran Islam yang begitu kaya. Dalam sejarah umat manusia, khususnya umat Islam sendiri, berbagai corak pemikiran pernah mewarnai.
Corak pemikiran mulai dari yang liberal, tradisionalis, ortodok, tekstual bahkan yang radikal, semuanya pernah menjadi konstelasi khasanah pemikiran keilmuan Islam. Jadi apabila masyarakat Islam butuh pemikiran yang liberal, tidak perlu susah-susah meminjam teori dari Barat. Dalam sejarah umat Islam pernah mempunyai cendekiawan-cendekiawan yang sophisticated, semisal Ibnu Khaldun, Ibnu ‘Arabi, Al-Ghazali, Muhammad Abid Al-Jabiri dan Ibnu Sina.
Di samping itu, dalam bukunya Amin Abdullah yang berjudul islamic Studies memuat pandangan lain dari filosof muslim dari Mesir, Hasan Hanafi, yang menyatakan dengan jelas bahwa filsafat Islam kontemporer tidak bisa tidak harus bergumul, berhadapan, berdialog langsung serta merespon persoalan yang diangkat ke permukaan oleh filsafat Barat. Dasar pertimbangan Hasan Hanafi sederhana saja. Falsafah Islam klasik dahulu, baik era Al-Farabi maupun era Ibn Rushd, juga bergumul langsung, bahkan sangat intensif, dengan falsafah Yunani. Dengan kata lain, filsafat tidak hanya menarik untuk dipelajari tetapi juga dibutuhkan oleh umat Islam.
Namun pihak Liberalisme Islam perlu bersabar dalam membentuk tatanan masyaraat Islam yang progresif, memusatkan pada rasionalitas dan menitikberatkan pada kebebasan manusia. Meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia stabil dan bergerak maju perlahan, tetapi masyarakat Indonesia masih banyak yang gundah gulana memikirkan materi. Tingkat ekonomi seseorang akan mempengaruhi rasa fanatik seseorang terhadap ilmu pengetahuan. Orang yang kurang mapan ekonomiannya akan menganggap ilmu pengetahuan tidak penting. Tetapi orang yang sudah mencapai kelayakan ekonomi akan memandang ilmu pengetahuan sangatlah pentinh, inilah yang disebut sebagai masyarakat yang post-material. Menurut Al-Farabi adalah akal yang menghubungkan antara materi dan immateri; semakin tinggi kedudukan akal semakin tinggi immateri; dan sebaliknya, semakin rendah nila dan tingkatan akal semakin bersifat material.
Efek dari kehidupan beragama dengan memarjinalkan ilmu pengetahuan, tentunya pengetahuan yang tanpa dikotomi antara ilmu umum dan ilmu agama, adalah masyarakat Indonesia akan mencari jalan pintas dalam beragama dan hanya berpegang pada dua sumber utama (Al-Qur’an dan Hadits) dengan meniadakan proses intelektual. Kaum fundamentalis biasa menyebutnya dengan istilah “kembali ke Al-Qur’an dan Hadits”, yang berarti suatu propaganda yang berbahaya dengan pandangan ahistoris dan menelantaskan pemikiran warisan lama. Jadilah Islam yang hanya berorientasi pada persoalan sosial. Tanpa mengaitkan kedua sumber utama dengan konteks tidak pernah ada pembaruann.


Yogyakarta, 10 November 2018
Oleh: A. Alfan Rois
Diskusi Majelisan #8

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Adalah Milik Semua Orang

Lagu adalah milik semua orang, entah siapa yang bikin dan mau diperjualbelikan atas nama copyright, industri musik, pelabelan studio, dan atau kapital lainnya tidaklah membuat lagu jadi milik pribadi dalam arti luas. Sekali seorang me-launching lagu, maka otomatis akan jadi milik orang lain, dengan logika sederhana bagaimana mungkin sebuah lirik, nada, ritme, dan melodi yang terejawantah dalam tembang akan jadi egois dan oportunis, karena lagu tidak bisa disembunyikan. Maka, semua nomenklatur yang aku sebut tadi hanyalah administrasi normal dari sebuah kapital industri musik, yang mereka sebut copyright ketika hanya dinyanyikan seorang diri, kelompok maupun sebuah acara yang besar, tetapi tidak boleh diperjualbelikan lewat media apa pun, dus dengan keuntungan dari lagu copyright itu yang dipermasalahkan, selebihnya yang penting dinikmati sendiri saja.   Dan bila suatu masa berkembang fenomena dan budaya cover lagu hanyalah akibat lanjutan atau kontinuasi dari gelombang kapital indu...

Perkembangan Karya Sastra Puisi Arab

Manusia sejak lahir dititipi oleh Tuhan dengan naluri keindahan (sastra) dalam dirinya. Tidak heran di zaman yang mutakhir ini banyak di antara manusia yang sangat pandai dalam membuat kata-kata indah di dunia maya. Sastra adalah semua aspek kehidupan yang dihasilkan oleh manusia yang muncul dari gejolak atau pengalaman jiwa yang memiliki nilai keindahan (Pradopo). Sastra Arab identik dengan bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah jalan satu-satunya untuk memahami sastra arab tersebut. Bahasa Arab merupakan salah satu rumpun besar bahasa  Semit (rumpun bahasa syam “putra nabi Nuh”). Aliran Klasik (Jahiliyyah) Karya sastranya berirama (pakem dengan kesamaan akhir bunyi puisi). Penyair-penyair dalam aliran ini yang paling terkenal adalah Ahmad Syauqi, sehingga mendapat gelar Al- Muallaqoh. Pembacaannya di pasar-pasar. Aliran Romantisme Dr. Ahmad Muzakki dalam bukunya Pengantar Teori Sastra Arab menjelaskan bahwa alirang yang pertama, mereka hanya terik...

Apa Bedanya dengan Penjajah

Indonesia sudah paham dan hafal betul tentang kedudukan dan penguasaan Belanda dan negara-negara barat di negeri tercinta ini, ibu pertiwi bahu membahu membangun dengan darah dan keringat perjuangan untuk menciptakan kedamaian dan kemakmuran anak cucunya. Tetapi tak lama mereka sudah mempertahankan dengan peradaban dan pengetahuan, tembok-tembok pembenteng yang menjulang tinggi dan kokohnya untuk melindungi rakyat dan rajanya dari serangan musuh dan penaklukan negeri seberang.   Hancur lebur diterpa meriam dan tembakan  bedil  perenggut nyawa-nyawa kemuliaan, pendudukan barat telah mengoyak-oyak nilai-nilai keluhuran yang sudah di lestarikan oleh para leluhur nusantara tanpa ampun sampai ke jantung dan hati setiap mangsanya, sumber daya alam emas rempah-rempah bah arah segar yang mengalir di setiap nadi kehidupan. Dihisap dan diambil tanpa boleh menyisakan sedikit dari darah kehidupan kijang buruannya. Rakyat menderita dan tidak dibolehkan hidup bahagia dan makmur di bawa...