Langsung ke konten utama

Begawan Durna Milenial

Suatu hari disebuah padukuhan karang kadempel yang merupakan tempat dan rumah sederhana semar bodronoyo dan juga anak-anaknya bermukim, keadaan rumah yang serba kurang dari segi materi dan boleh dikatakan rumah yang kurang layak, tetapi di rumah itulah kedamaian dan ketenangan diperoleh semar dan anak-anaknya, karena memang sejatinya semar adalah dewa yang tidak gebyar atau tidak suka dengan harta yang melimpah ataupun kekayaan. Semar dan anak-anaknya waktu itu sedang berkumpul dengan ketiga anaknya yaitu Gareng, Petrok, dan tidak ketinggalan Bagong. Dikala kedamain mereka di sebuah pendopo kecil nan sederhana di depan rumahnya semar datanglah tamu yang tanpa diundang oleh tuannya, yaitu Begawan Durna seorang pendeta atau pertapa dari negara Ngastina bersama patih negara Ngastina yaitu Patih Sengkuni. 

 


Begawan Durna dan patih sengkuni datang dengan kereta kencana yang bisa dikatakan canggih di zamannya, diiringi dengan 100 prajurit negara Ngastina atau yang biasa disebut dengan Kurowo. Setelah mereka sampai di pendopo sederhana yang berada di depan rumah Semar, Semar Bodronoyo dan ketiga anaknya menghaturkan salam sembah sebagai tanda memuliakan tamu ataupun orang yang memiliki derajat lebih tinggi di suatu kerajaan. Tanpa basa basi begawan Durna membalas sembah yang diaturkan Semar dan anak-anaknya dengan nada melecehkan dan merendahkan karena memang Begawan Durna merupakan seorang pendeta atau pertapa yang hanya menghormati dan berbaur dengan orang-orang kaya saja dan dia sangat tidak suka dengan orang-orang yang miskin. Tetapi Semar meskipun dia dihina dan direndahkan di depan anak-anaknya, Semar Bodronoyo tetap sabar dan legowo menghadapi kelakuan begawan Durna. Lanjut dari cerita Semar menanyakan apa maksud baginda Begawan Durna dan Patih Sengkuni datang ke Karang Kadempel? Apakah diutus Yang mulia raja Ngastina yaitu Prabu Duryudono ataukah keinginan pribadi? Durna menjawab dengan angkuh dan sombong bahwa dia datang yaitu diutus oleh Prabu Duryudono untuk menanyakan sesuatu yang sangat berharga, tetapi sangat disayangkan bahwa pertanyaan yang dilontarkan kepada Semar tersebut, Semar tidak atau belum mengetahui jawaban yang diinginkan secara pastinya.

 

Begawan Durna memaksa Semar Bodronoyo sampai dia mendapatkan jawabannya, akhirnya Semar menceramahi Durna bahwa seorang pendeta atau pertapa tidak layak mempunyai watak yang kurang ajar terhadap bawahannya apalagi kepada sesama manusia, pendeta harusnya mengayomi dan mengasihi manusia supaya manusia dapat dekat dengan Tuhannya dan menciptakan kerukunan pada umatnya, pendeta harus menjadi contoh yang baik dalam segala perilaku dan tata krama, bukan hanya pakaiannya yang putih dan pecinya yang putih saja tetapi hati dan akalnya juga harus bersih (bersih lahir dan batin) sehingga tujuannya meluruskan umat manusia akan tercapai, dan manusia tidak tersesat dijalan yang keliru. 

 

Cerita diatas mirip sekali dengan realita sekarang dimana banyak orang yang mengaku sebagai pertapa, pendeta, ataupun para kyai dan ustadz tetapi hanya penampilan luarnya saja yaitu pakaiannya saja yang agamis dan selalu berkedok dengan dalil-dalil kitab suci tetapi dalam berperilaku yang sebenarnya dia mengadu domba antar umat manusia untuk mendapatkan keinginan pribadinya. Mereka menjual agama dengan murah kepada para pemangku jabatan sehingga dia berani membolak balik ayat supaya membela seorang yang mereka junjung.

 

Orang yang tidak bisa ketahui secara pasti latar belakang pendidikannya dan berguru dengan siapa saja dapat dengan mudah dipanggil ustadz, kyai, bahkan ulama, keseganan orang-orang ketika saat kebetulan dia bisa menjawab atau mengatasi problem dalam urusan agama, menjadikan orang pengikutnya rela mengabdikan dirinya untuk menuntut agama, atau jangan dia memang disuruh untuk berdandan serba agamis dan namanya di agung-agungkan untuk kepentingan politik? Yo mboh leh.. Begawan Durna milenial ini lah yang meresahkan dan membingungkan umat manusia yang sungguh-sungguh ingin mendekatkan dirinya dengan Tuhannya, mereka diperalat untuk mendapatkan kepentingannya dan inilah realita, makanya Tuhan membekali selain Alquran dan Hadist yaitu akal pikiranmu yang digunakan untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah, mana kyai, pendeta, ataupun pertapa yang benar-benar peduli masyarakat dan mana yang hanya memanfaatkan masyarakat. Ditemukan tidaknya kedamain juga salah satu peran ulama karena merekalah petunjuk supaya orang-orang hidup dalam harmoni bersama Tuhan dan alamnya. 

 

Tlogoharum, 15 Januari 2021

 

Penulis: Mujiyono

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagu Adalah Milik Semua Orang

Lagu adalah milik semua orang, entah siapa yang bikin dan mau diperjualbelikan atas nama copyright, industri musik, pelabelan studio, dan atau kapital lainnya tidaklah membuat lagu jadi milik pribadi dalam arti luas. Sekali seorang me-launching lagu, maka otomatis akan jadi milik orang lain, dengan logika sederhana bagaimana mungkin sebuah lirik, nada, ritme, dan melodi yang terejawantah dalam tembang akan jadi egois dan oportunis, karena lagu tidak bisa disembunyikan. Maka, semua nomenklatur yang aku sebut tadi hanyalah administrasi normal dari sebuah kapital industri musik, yang mereka sebut copyright ketika hanya dinyanyikan seorang diri, kelompok maupun sebuah acara yang besar, tetapi tidak boleh diperjualbelikan lewat media apa pun, dus dengan keuntungan dari lagu copyright itu yang dipermasalahkan, selebihnya yang penting dinikmati sendiri saja.   Dan bila suatu masa berkembang fenomena dan budaya cover lagu hanyalah akibat lanjutan atau kontinuasi dari gelombang kapital indu...

Perkembangan Karya Sastra Puisi Arab

Manusia sejak lahir dititipi oleh Tuhan dengan naluri keindahan (sastra) dalam dirinya. Tidak heran di zaman yang mutakhir ini banyak di antara manusia yang sangat pandai dalam membuat kata-kata indah di dunia maya. Sastra adalah semua aspek kehidupan yang dihasilkan oleh manusia yang muncul dari gejolak atau pengalaman jiwa yang memiliki nilai keindahan (Pradopo). Sastra Arab identik dengan bahasa Arab, karena bahasa Arab adalah jalan satu-satunya untuk memahami sastra arab tersebut. Bahasa Arab merupakan salah satu rumpun besar bahasa  Semit (rumpun bahasa syam “putra nabi Nuh”). Aliran Klasik (Jahiliyyah) Karya sastranya berirama (pakem dengan kesamaan akhir bunyi puisi). Penyair-penyair dalam aliran ini yang paling terkenal adalah Ahmad Syauqi, sehingga mendapat gelar Al- Muallaqoh. Pembacaannya di pasar-pasar. Aliran Romantisme Dr. Ahmad Muzakki dalam bukunya Pengantar Teori Sastra Arab menjelaskan bahwa alirang yang pertama, mereka hanya terik...

Apa Bedanya dengan Penjajah

Indonesia sudah paham dan hafal betul tentang kedudukan dan penguasaan Belanda dan negara-negara barat di negeri tercinta ini, ibu pertiwi bahu membahu membangun dengan darah dan keringat perjuangan untuk menciptakan kedamaian dan kemakmuran anak cucunya. Tetapi tak lama mereka sudah mempertahankan dengan peradaban dan pengetahuan, tembok-tembok pembenteng yang menjulang tinggi dan kokohnya untuk melindungi rakyat dan rajanya dari serangan musuh dan penaklukan negeri seberang.   Hancur lebur diterpa meriam dan tembakan  bedil  perenggut nyawa-nyawa kemuliaan, pendudukan barat telah mengoyak-oyak nilai-nilai keluhuran yang sudah di lestarikan oleh para leluhur nusantara tanpa ampun sampai ke jantung dan hati setiap mangsanya, sumber daya alam emas rempah-rempah bah arah segar yang mengalir di setiap nadi kehidupan. Dihisap dan diambil tanpa boleh menyisakan sedikit dari darah kehidupan kijang buruannya. Rakyat menderita dan tidak dibolehkan hidup bahagia dan makmur di bawa...