Suatu hari disebuah padukuhan karang kadempel yang merupakan tempat dan rumah sederhana semar bodronoyo dan juga anak-anaknya bermukim, keadaan rumah yang serba kurang dari segi materi dan boleh dikatakan rumah yang kurang layak, tetapi di rumah itulah kedamaian dan ketenangan diperoleh semar dan anak-anaknya, karena memang sejatinya semar adalah dewa yang tidak gebyar atau tidak suka dengan harta yang melimpah ataupun kekayaan. Semar dan anak-anaknya waktu itu sedang berkumpul dengan ketiga anaknya yaitu Gareng, Petrok, dan tidak ketinggalan Bagong. Dikala kedamain mereka di sebuah pendopo kecil nan sederhana di depan rumahnya semar datanglah tamu yang tanpa diundang oleh tuannya, yaitu Begawan Durna seorang pendeta atau pertapa dari negara Ngastina bersama patih negara Ngastina yaitu Patih Sengkuni.
Begawan Durna dan patih sengkuni datang dengan kereta kencana yang bisa dikatakan canggih di zamannya, diiringi dengan 100 prajurit negara Ngastina atau yang biasa disebut dengan Kurowo. Setelah mereka sampai di pendopo sederhana yang berada di depan rumah Semar, Semar Bodronoyo dan ketiga anaknya menghaturkan salam sembah sebagai tanda memuliakan tamu ataupun orang yang memiliki derajat lebih tinggi di suatu kerajaan. Tanpa basa basi begawan Durna membalas sembah yang diaturkan Semar dan anak-anaknya dengan nada melecehkan dan merendahkan karena memang Begawan Durna merupakan seorang pendeta atau pertapa yang hanya menghormati dan berbaur dengan orang-orang kaya saja dan dia sangat tidak suka dengan orang-orang yang miskin. Tetapi Semar meskipun dia dihina dan direndahkan di depan anak-anaknya, Semar Bodronoyo tetap sabar dan legowo menghadapi kelakuan begawan Durna. Lanjut dari cerita Semar menanyakan apa maksud baginda Begawan Durna dan Patih Sengkuni datang ke Karang Kadempel? Apakah diutus Yang mulia raja Ngastina yaitu Prabu Duryudono ataukah keinginan pribadi? Durna menjawab dengan angkuh dan sombong bahwa dia datang yaitu diutus oleh Prabu Duryudono untuk menanyakan sesuatu yang sangat berharga, tetapi sangat disayangkan bahwa pertanyaan yang dilontarkan kepada Semar tersebut, Semar tidak atau belum mengetahui jawaban yang diinginkan secara pastinya.
Begawan Durna memaksa Semar Bodronoyo sampai dia mendapatkan jawabannya, akhirnya Semar menceramahi Durna bahwa seorang pendeta atau pertapa tidak layak mempunyai watak yang kurang ajar terhadap bawahannya apalagi kepada sesama manusia, pendeta harusnya mengayomi dan mengasihi manusia supaya manusia dapat dekat dengan Tuhannya dan menciptakan kerukunan pada umatnya, pendeta harus menjadi contoh yang baik dalam segala perilaku dan tata krama, bukan hanya pakaiannya yang putih dan pecinya yang putih saja tetapi hati dan akalnya juga harus bersih (bersih lahir dan batin) sehingga tujuannya meluruskan umat manusia akan tercapai, dan manusia tidak tersesat dijalan yang keliru.
Cerita diatas mirip sekali dengan realita sekarang dimana banyak orang yang mengaku sebagai pertapa, pendeta, ataupun para kyai dan ustadz tetapi hanya penampilan luarnya saja yaitu pakaiannya saja yang agamis dan selalu berkedok dengan dalil-dalil kitab suci tetapi dalam berperilaku yang sebenarnya dia mengadu domba antar umat manusia untuk mendapatkan keinginan pribadinya. Mereka menjual agama dengan murah kepada para pemangku jabatan sehingga dia berani membolak balik ayat supaya membela seorang yang mereka junjung.
Orang yang tidak bisa ketahui secara pasti latar belakang pendidikannya dan berguru dengan siapa saja dapat dengan mudah dipanggil ustadz, kyai, bahkan ulama, keseganan orang-orang ketika saat kebetulan dia bisa menjawab atau mengatasi problem dalam urusan agama, menjadikan orang pengikutnya rela mengabdikan dirinya untuk menuntut agama, atau jangan dia memang disuruh untuk berdandan serba agamis dan namanya di agung-agungkan untuk kepentingan politik? Yo mboh leh.. Begawan Durna milenial ini lah yang meresahkan dan membingungkan umat manusia yang sungguh-sungguh ingin mendekatkan dirinya dengan Tuhannya, mereka diperalat untuk mendapatkan kepentingannya dan inilah realita, makanya Tuhan membekali selain Alquran dan Hadist yaitu akal pikiranmu yang digunakan untuk memilih mana yang benar dan mana yang salah, mana kyai, pendeta, ataupun pertapa yang benar-benar peduli masyarakat dan mana yang hanya memanfaatkan masyarakat. Ditemukan tidaknya kedamain juga salah satu peran ulama karena merekalah petunjuk supaya orang-orang hidup dalam harmoni bersama Tuhan dan alamnya.
Tlogoharum, 15 Januari 2021
Penulis: Mujiyono
Lanjutannya dong
BalasHapus